Jumlah pe-longok :

Kamis, 10 Mei 2012

Sejarah Penelitian Pertanian di Indonesia:

Disusun oleh Ir. Syahyuti, MSi. (Peneliti Sosiologi Pertanian pada Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor). Materi ini sangat ringkas, masih dangkal, dan belum lengkap. Jika Bapa, Ibu, dan Rekan mau membantu untuk melengkapinya, silahkan isi pada ruang comment di bawah.

1817. Berdiri Kebun Raya Bogor. Fungsi Kebun Raya yang semula untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang botani tropis kemudian berkembang untuk studi pertanian rakyat bagi bumi putera dan perkebunan milik bangsa Eropa.

1876.  Kebun Raya membangun Kebun Budidaya Tanaman (Kultuurtuin) di Cikeumeuh Bogor dengan mandat untuk melaksanakan 3 fungsi, yaitu : penelitian, pendidikan, dan penyuluhan. Disamping membangun kebun percobaan dengan fungsi penelitian, juga dibangun kebun-kebun percontohan dan sekolah pertanian sebagai bagian dari fungsi penyuluhan dan pendidikan pertanian.

1905. Berdirinya Departemen Pertanian (Departemen Van Landbouw) yang salah satunya melaksanakan pendidikan dan penyuluhan pertanian bagi rakyat pribumi. Selanjutnya, berdiri Sekolah Hortikultura (1900), Sekolah Pertanian (1903), Sekolah Dokter Hewan (1907), Culture School (1913), Lanbouw Bedriff School (1922), dan Middlebare Boschbauw School pada tahun 1938.

1918: Berdiri Balai Besar Penyelidikan Pertanian (Algemeen Proefstation voor den Landbouw), yang kemudian semenjak tahun 1949 menjadi Jawatan Penyelidikan Pertanian, lalu 1952 menjadi Balai Besar Penyelidikan Pertanian / General Agriculture Experiment Station (Algemeen Proefstation voor den Landbouw). Selanjutnya tahun 1966 menjadi Lembaga Pusat Penelitian Pertanian, tahun 1980 berubah lagi menjadi Balai Penelitian Tanaman Bogor (Balittan), tahun 1994 menjadi Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (Balitbio), tahun 2002 menjadi Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (Balitbiogen), dan terakhir tahun 2003 berganti nama menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen)

1960-1970. Teknologi genetika memicu terjadinya revolusi hijau (green revolution) yang berjalan sejak 1960-an. Dengan adanya revolusi hijau ini terjadi pertambahan produksi pertanian yang berlipat ganda sehingga dapat tercukupi bahan makanan pokok asal serealia. Cabang ilmu genetika yang memfokuskan pada genetika level sel dan level DNA membuat terobosan baru pada akhir tahun 1980-an. Ilmu genetika ini menerapkan teknik perbaikan sifat spesies melalui level DNA dengan cara memasukkan gen eksogenus, untuk memperoleh sifat-sifat bermanfaat yang tidak terdapat pada spesies tersebut.

1974. Keppres tahun 1974 (dan lalu tahun 1979) menetapkan bahwa Badan Litbang Pertanian sebagai unit Eselon I, membawahi 12 unit Eselon II, yaitu: 1 Sekretariat, 4 Pusat (Pusat Penyiapan Program, Pusat Pengolahan Data Statistik, Pusat Perpustakaan Biologi dan Pertanian, dan Pusat Karantina Pertanian) 2 Pusat Penelitian (Puslit Tanah dan Puslit Agro-Ekonomi), serta 5 Pusat Penelitian Pengembangan (Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Tanaman Industri, Puslitbang Kehutanan, Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang Perikanan).

1974. Proyek Survey Agro Ekonomi (SAE) mulai dijalankan yang berada di bawah Yayasan Agro Ekonomika (YAE). Dengan nama Pusat Penelitian Agro Ekonomi (P/AE) sesuai dengan Keppres RI No. 44-45/1974, dan secara resmi posisinya adalah di bawah Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian. Objek penelitian kala itu berkenaan dengan karakteristik penguasaan lahan, perubahan pola panen, pendapatan tenaga kerja dan kesejahteraan petani. Beberapa peneliti saat itu misalnya adalah Prof. Sajogyo, DR. Rudolf Sinaga, dan Ir. Gunawan Wiradi, MSoc. (foto gedung PSE awal).

-Berdasarkan Keppres No. 24/1983 dan SK Mentan No. OT.210/706/Kpts/9/1983 ditetapkan bahwa kegiatan penelitian sosial ekonomi pertanian dijalankan oleh Pusat Penelitian Agro Ekonomi (P/AE). Kerjasama  penelitian dengan instansi departemen-departemen, pemerintah daerah, serta dengan luar negeri di antaranya adalah ADB, ACIAR, FAO, ESCAP-CGPRT, IFPRI, IFAD, IIRI, dan ISNAR. Penelitian yang dijalankan dengan topik kebijakan industri pengolahan, kesempatan kerja dan insentif harga dalam menunjang program diversifikasi tanaman pangan. Juga dilakukan penelitian untuk berbagai komoditas tanaman industri yaitu untuk karet, minyak nabati, tembakau, kopi, kelapa sawit, serta PIR; serta penelitian-penelitian perikanan laut dan darat.

1990. PAE berubah nama menjadi Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian (P/SE) eselon II di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, sesuai dengan Keppres No. 4 tahun 1990 tanggal 24 Juni 1990. Penelitian dengan analisis sosial mulai dijalankan, baik secara terpisah maupun bersama-sama dengan penelitian ekonomi pertanian. Sesuai dengan SK Mentan No. 560/Kpts/OT.210/8/1990 tanggal 6 Agustus 1990, P/SE mempunyai tugas membina, mengkoordinasikan, dan melaksanakan penelitian di bidang sosial ekonomi pertanian, serta menjadi referensi nasional dan pusat koordinasi penelitian ekonomi dan sosial pertanian. Fungsi yang diemban adalah: (a) melakukan koordinasi penyusunan program penelitian dan evaluasi pelaksanaan tata operasional penelitian agro ekonomi, (b) membina dan mengkoordinasikan, serta melaksanakan penelitian agro ekonomi, dan (c) melakukan penyaluran hasil penelitian dan memberikan pelayanan teknik penelitian agro ekonomi.

Penelitian dikelompokkan atas empat bagian yaitu analisis komoditas, alokasi sumberdya nasional, kelembagaan pedesaan, dan analisis kebijaksanaan. Ada 5 program penelitian yaitu: (1) pembangunan pertanian, wilayah dan pedesaan, (2) agribisnis, (3) studi perdagangan internasional dan antar wilayah, (4) penelitian kelembagaan pertanian dan pedesaan, serta (5) penelitian sumber daya manusia, kapital, dan sumberdaya alam.

Tahun 2001 berubah nama menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Dan, tahun 2005, sesuai dengan Permentan No. 299 tahun 2005, berubah lagi menjadi Pusat Analisis Sosial Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.  Peran PSEKP adalah: merumuskan program serta melaksanakan analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan di bidang pertanian, melaksanakan telaah ulang program dan kebijakan di bidang pertanian, memberikan pelayanan teknis, serta melakukan kerjasama dan pendayagunaan hail penelitian.

1980. Varietas padi Cisadane dilaunching. Umur tanaman sekitar 135 – 140 hari, dengan rata-rata hasil  5,0 ton/ha, dan potensi hasil 7,0 ton/ha. Tahan wereng coklat biotipe 1 dan 2, namun rentan terhadap wereng coklat biotipe 3. Untuk penyakit, ia tahan terhadap hawar daun bakteri, namun rentan terhadap blas dan hawar pelepah, dan virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput.

1981. Balai Penelitian Ternak (Balitnak) merupakan gabungan dua Unit Kerja bidang peternakan yaitu Lembaga Penelitian Peternakan (LPP) di jalan Raya Pajajaranm, Bogor dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak (P3T) di Ciawi, Bogor pada tahun 1981. Sejalan dengan perkembangannya, sejak didirikan masing-masing unit kerja tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan nama. Lembaga Penelitian Peternakan di Bogor, awal didirikannya bernama Balai Penelitian Umum (BPU 1950, Palai Penyidikan Peternakan (BPP) 1952, Pusat Balai Penyelidikan Peternakan (PBPP) 1956, Lembaga Penelitian Peternakan (1961), Lembaga Peternakan (1966), Lembaga Penelitian Peternakan (1967).

Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak (P3T) di Ciawi, Bogor adalah kantor penelitian Indonesia-Australia berdasarkan memorandum persetujuan tanggal 4 Desember 1974, kerjasama Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian, Indonesia dengan Colombo Plan, CSIRO (Commonwealth Scientific and Industri Research Organization) Australia. Direncanakan berlangsung selama 10 tahun. Semula bernama B.A.R.I. (Bogor Animal Husbandry Research Institute) kemudian berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (P4). Pada tanggal 13 Nopember 1978 berubah menjadi P3T dan diresmikan pengunaannya oleh Presiden Soeharto dan dihadiri oleh Perdana Menteri Australia serta pejabat tinggi kedua negara Penggabungan LPP dan P3T tahun 1981 secara resmi menjadi Balai Penelitian Ternak (Balitnak) SK Mentan No. 71/KPts/OT.210/1/2002 dan sekaligus pelimpahan kedudukan yang semula dibawah Direktorat Jenderal Peternakan menjadi Unit Kerja Badan Litbang Pertanian. Tahun 1950 menjadi Balai Peternakan Umum, lalu tahun 1952 menjadi Balai Penyidikan Peternakan, tahun 1956 berubah lagi menjadi Pusat Balai Penyidikan Peternakan, dan tahun 1961 Lembaga Penelitian Peternakan. Tahun 1974 menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan atau Bogor Animal Husbandry Research Institute, lalu 1978 menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak.

1983: Badan Litbang mengalami perubahan sesuai dengan perubahan lingkungan strategis dan tuntutan pembangunan pertanian. Berdasarkan Kepres No. 24 tahun 1983, Badan Litbang Pertanian terdiri atas: Sekretariat, Pusat Data Statistik, Pusat Perpustakaan Pertanian, Puslit Tanah, Puslit Agro-Ekonomi, Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Tanaman Industri, Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang Perikanan.

1990. Dalam Keppres No. 4 1990 struktur Organisasi Badan Litbang Pertanian terdiri atas: Sekretariat, Pusat Data Statistik, Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian, Puslit Tanah & Agroklimat, Puslit Sosial Ekonomi Pertanian, Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Tanaman Industri, Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang Perikanan. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 75/Kpts/OT.210/2/1991, Badan Litbang mendapat tambahan satu unit Eselon II yaitu Balai Besar Pengembangan Alat dan Mesin Pertanian (BBP Alsintan).

1991. Dilakukan penelitian oleh PSEKP yang cakupan wilayahnya paling luas, yakni seluruh propinsi (kecuali DKI Jakarta) dengan judul Studi Identifikasi Wilayah Miskin di Indonesia dan Alternatif Penaggulangannya. Saat itu, pemerintah mulai menyadari adanya fenomena kemiskinan, dan mulai terbuka untuk dipelajari secara ilmiah. Ini merupakan studi kemiskinan yang cukup luas di Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah bisa dibicarakan secara terbuka. Pemerintah sebelumnya selalu berupaya menutupi masalah kemiskinan ini.

1993. Seiring dengan program pemerintah untuk merampingkan jabatan struktural dan mengembangkan jabatan fungsional, dikeluarkan Keppres No. 83 tahun 1993 yang dijabarkan dalam Kepmen Pertanian No.96/Kpts/OT.210/2/1994 tentang organisasi dan tata kerja Departemen Pertanian. Selanjutnya susunan organisasi Badan Litbang Pertanian terdiri atas 11 unit Eselon II, yaitu: Sekretariat, Pusat Penyiapan Program Penelitian, Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian, Puslit Tanah & Agroklimat, Puslit Sosial Ekonomi Pertanian, Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Tanaman Industri, Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang Perikanan, serta BBP Alsintan. Pada reorganisasi saat ini, dibentuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) yang tersebar di sebagian besar propinsi di Indonesia.

1993: Sesuai dengan Keppres No. 83 tahun 1993 dibentuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia. Selain itu juga terjadi pembentukan 2 unit organisasi BPTP di 2 Propinsi, yaitu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung (Kepmentan No. 633/Kpts/OT.140/12/2003).

1995. Varietas padi Memberamo diperkenalkan ke masyarakat. Padi ini cocok untuk di lahan irigasi sebagai padi sawah pada musim hujan dan kemarau dengan ketinggian kurang dari 550 m dpl. Potensi hasil kurang lebih 6.5 t/ha gabah kering giling dengan kadar amilosa kurang lebih 19%. Tahan penyakit hawar daun bakteri (HDB) strain III dan agak tahan tungro. Tahan wereng coklat biotipe 1 & 2 dan agak tahan wereng cokelat biotipe 3. Tahan hawar daun bakteri strain III dan agak tahan tungro.

1998: Berdasarkan Keppres No.61/1998 Badan Litbang Pertanian mengalami perubahan, karena Puslitbang Tanaman Industri masuk ke Departemen Kehutanan dan Perkebunan, maka susunan organisasinya sebagai berikut: Sekretariat, Pusat Penyiapan Program Penelitian, Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian, Puslit Tanah & Agroklimat, Puslit Sosial Ekonomi Pertanian, Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang Perikanan, serta BBP Alsintan.

2000. Badan Litbang melakukan perampingan organisasi berdasarkan SK. Mentan No.160/Kpts/OT.210/3/2000. Pada periode ini Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) berubah menjadi Pusat Penelitian (Puslit). Susunan organisasi Badan Litbang terdiri atas 7 unit Eselon II: Sekretariat, Puslit Tanah & Agroklimat, Puslit Sosial Ekonomi Pertanian, Puslit Tanaman Pangan, Puslit Hortikultura, Puslit Peternakan, serta BBP Alsintan sebagai unit Eselon IIb. Sesuai SK Mentan tersebut pula Puslitbang Perikanan masuk ke Departemen Kelautan dan Perikanan. Sedangkan Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (tadinya Pusat Perpustakaan Pertanian dan Komunikasi Penelitian) berada dibawah administrasi Sekretariat Jenderal Deptan.

2000. Padi varietas Ciherang diluncurkan ke publik. Padi ini potensial mampu memberikan anakan produktif sebanyak 14-17 batang. Cocok ditanam pada musim hujan dan kemarau dengan ketinggian di bawah 500 m dpl, dengan potensi hasil 5 sampai 8,5 ton/ha. Ia tahan penyakit Bakteri Hawar Daun (HDB) strain III dan IV. Juga tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan agak tahan biotipe 3. Tahan terhadap hawar daun bakteri strain III dan IV.

2001. Sesuai SK Menteri No. 01/Kpts/OT.210/1/2001 susunan organisasi Badan Litbang Pertanian berubah lagi ditandai dengan berubahnya 'Puslit' menjadi 'Puslitbang' dan kembalinya Perkebunan ke lingkungan Departemen Pertanian. Strukturnya menjadi 8 unit Eselon II: Sekretariat, Puslitbang Tanah & Agroklimat, Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian, Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Hortikultura, Puslitbang Peternakan, dan Puslitbang Perkebunan, sedangkan BBP Mekanisasi Pertanian belum berubah.

2003. Terjadi penyempurnaan organisasi dan tata kerja dua Balai Penelitian. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No: 631/Kpts/OT.140/12/2003 disempurnakan menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. Sedangkan Balai Penelitian Pascapanen Pertanian dengan Keputusan Menteri Pertanian No: 631/Kpts/OT.140/12/2003 disempurnakan menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Dengan demikian Badan Litbang Pertanian mempunyai 10 unit eselon II.

Selain itu juga terjadi pembentukan 2 unit organisasi BPTP di 2 Propinsi, yaitu Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung (Kepmentan No. 633/Kpts/OT.140/12/2003).

2004. Peluncuran vaietas padi Mekongga. Varietas ini cukup disenangi, dengan kemampuan potensial kisaran hasil 6 ton/ha, dan rasa nasi pulen. Varietas ini agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3, agak tahan terhadap bakteri hawar daun strain IV.

2005. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 299/Kpts/OT.140/7/2005, Badan Litbang Pertanian terdiri dari satu Sekretariat Badan dan empat Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) yang meliputi 1) Puslitbang Tanaman Pangan, 2) Puslitbang Hortikultura, 3) Puslitbang Perkebunan, dan 4) Puslitbang Peternakan. Di samping itu, dibentuk Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian sebagai perubahan dari Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Berdasarkan Permentan No. 328/Kpts/OT.220/6/2005 Badan Litbang Pertanian membina Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Berdasarkan Permentan No. 329/Kpts/OT.220/6/2005, Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian dibina sepenuhnya oleh Badan Litbang Pertanian.

Selanjutnya berdasarkan Permentan No. 300/Kpts/OT.140/7/2005 telah dibentuk Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDL) sebagai perubahan dari Puslitbang Tanah dan Agroklimat, sedangkan Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian berubah menjadi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) berdasarkan Permentan No. 301/Kpts/OT.140/7/2005. BBSDL mengkoordinasikan kegiatan penelitian dan pengembangan yang bersifat lintas sumberdaya di bidang tanah, agroklimat dan hidrologi, lahan rawa, serta pencemaran lingkungan. Sedangkan BBP2TP mengkoordinasikan kegiatan pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian yang bersifat spesifik lokasi di 28 BPTP.

2006. Sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, tahun 2006 Unit Pelaksana Teknis (UPT) mengalami penataan organisasi. Penataan UPT tersebut meliputi peningkatan status eselon yaitu Balai Penelitian Tanaman Padi dari eselon III-a menjadi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi eselon II-b, Balai Penelitian Veteriner menjadi Balai Besar Penelitian Veteriner eselon II-b. Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik dari eselon IV-a menjadi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika eselon III-a, Loka Penelitian Tanaman Sela Perkebunan menjadi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri eselon III-a, dan Loka Penelitian Pencemaran Lingkungan Pertanian menjadi Balai Penelitian Lingkungan Pertanian eselon III-a.

Di samping itu, UPT yang mengalami perubahan nomenklatur adalah Balai Penelitian Tanaman Buah menjadi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat menjadi Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) tahun 2006 bertambah dua unit organisasi yaitu BPTP Gorontalo dan BPTP Maluku Utara. Sehingga tahun 2006 Badan Litbang Pertanian terdiri atas Sekretariat Badan, 4 Puslitbang, 2 Pusat, 7 Balai Besar, 15 Balai Penelitian, 30 Balai Pengkajian, dan 3 Loka Penelitian.

2007: Badan Litbang Pertanian mendapat penambahan dua UPT eselon III yaitu Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP) dan BPTP Papua Barat. Jadi pada tahun 2007 Badan Litbang Pertanian terdiri atas Sekretariat Badan, 4 Puslitbang, 2 Pusat, 7 Balai Besar, 15 Balai Penelitian, 1 Balai PATP, 31 Balai Pengkajian, dan 3 Loka Penelitian.

24 Juli 2008. Presiden SBY meluncurkan padi jenis baru yang diberi nama Situ Patenggang di Sukamadi, Subang, Jawa Barat. Padi varietas baru ini merupakan hasil penemuan dari penelitian yang dilakukan Balai Penelitian Padi Sukamadi, Subang, Jawa Barat. Dalam acara ini, presiden juga melakukan temu wicara dengan sekira 300-an petani se-Indonesia..

*****

3 komentar:

Suhadi Rembang mengatakan...

sentuhan sosiologinya kok belum tampak mas.

Informasi Umum mengatakan...

Assalamualaikum Wr.Wb. Met Pagi Kang Syahyuti ( Sosiologi Pertanian ) kita ini. Banyak sekali tulisan yang sangat menarik sy baca tulisan2 kang Syahyuti.
Terutama tentang Sejarah Penelitian Pertanian di Indonesia. Yg Ingin saya tanyakan, apakah sy bisa menambahkan atau hanya membaca saja Kang Syahyuti.
Wassalamuallaikkum Wr.Wb.

Informasi Umum mengatakan...

Banyak sekali tulisan2 yang menarik di Blog Kang Syahyuti ini. Ijinkan saya agar membacanya Kang syahyuti.