Jumlah pe-longok :

Selasa, 23 Februari 2016

P4S Sebagai Pelaku Penyuluhan Modern



(Presentasi di Crystal Kuta Hotel – Denpasar, 16 Februari 2016) 

Farmer to farmer extension dan Penyuluhan MODERN

Ada empat periode penyuluhan pertanian di Asia:
1.                Colonial agriculture: experimental stations, export crops technical advice was provided managers and large landowners, assistance to small farmers was rare
2.                Diverse top-down extension: after independence, commodity-based extension services, production targets, support from foreign donors.
3.                Unified top-down extension: during the 1970s and 1980s, Training and Visit system by World Bank, Green Revolution technologies.
4.                Diverse bottom-up extension: World Bank funding end, the T&V system collapsed, programs and projects funded from various sources, rhe decline of central planning, concern for sustainability and equity, participatory methods ( = sejalan dengan ruh UU 16 tahun 2006).

P4S Sebagai Pelaku Penyuluhan Pertanian MODERN:

Dalam Permentan no 46-2014 ttg Pedoman Penilaian P4S Berprestasi, disebutkan bahwa Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) adalah “kelembagaan pelatihan/permagangan petani yang tumbuh dan berkembang dari petani, oleh petani, dan untuk petani yang secara langsung berperan aktif dalam pembangunan pertanian di wilayahnya”.
P4S memiliki azas-azas sebagai berikut, yaitu: keswadayaan, demokrasi, kekeluargaan,  kemanfaatan, keterpaduan, dan kesederhanaan. Sedangkan PRINSIP-PRINSIP P4S adalah: kemandirian, kerakyatan, kemitraan, sinergi, dan berkelanjutan.

P4S berkembang cukup baik, dimana pada tahun 1993 baru ada 14 unit di 10 provinsi, lalu tahun 1995 berkembang menjadi 46 unit yang tersebar di 20 provinsi, dan tahun 2008 menjadi 708 unit di 33 provinsi. Terakhir pada tahun 2013 telah menjadi 963 unit yang tersebar di 34 provinsi.
Kegiatan P4S sesungguhnya berda dalam konteks Farmer to farmer extension yaitu the provision of training by farmers, to farmers, often through the creation of a structure of farmer-trainers”. Ada beberapa motivasi penggunaan pendekatan ini yaitu:  (1) Reach more farmers, (2) Reduce costs, (3) Realization that farmers learn best from peers, dan (4) Empower farmers, especially women.

******

Tidak ada komentar: